Dosen Fakultas Teknologi Industri dan Pangan Universitas Padjadjaran Robi Andoyo STP, M.Sc, Ph.D, telah melakukan riset dan membuat sebuah inovasi berupa pangan darurat berbasis whey protein sejak tahun 2018 – 2019 dan telah berjalan selama 4 tahun terakhir. Bertujuan agar lebih mempermudah dan memberikan gizi yang cukup bagi para korban bencana.

Dibuatnya pangan darurat ini karena pada saat dosen Robi mengikuti konferensi di Filipina dan terjadi bencana angin topan. Beliau melihat bahwa negara Filipina ini memiliki mitigasi yang tinggi dibandingkan Indonesia. Sehingga terjadilah inovasi pangan darurat ini.

“Memang kan kita sudah faham gitu ya setiap bencana terjadi yang diandalkan adalah suply beras, mie instan, buka dapur umum. Padahal komoditas tersebut membutuhkan proses sebelum dikonsumsi, pada kondisi bencana untuk memproses bahan tadi membutuhkan air dan air sangat terbatas dan kualitas tidak cukup bagus sehingga kita mengenal dengan bencana setelah bencana” Ucap Dosen Robi dalam kanal Youtube UNPAD (14 November 2022)

Dengan pengetahuan yang dimilikinya Dosen Robi mencoba melihat apa saja potensi yang dimiliki dari sumber daya yang ada di Indonesia. Ada dua koperasi susu terbesar di Jawa Barat yang menghasilkan limbah yang sangat banyak, menurut pengetahuan yang Ia miliki dari pembuatan makanan yang dibuat oleh koperasi ini hanya 10% yang digunakan sebagai bahan pembuatan pangan dan 90% lainnya adalah limbah. Dan di dalam limbah tersebut masih dapat dimanfaatkan untuk produk pangan lain yang memiliki protein efisiensi rasio yang tinggi. Sehingga setiap protein yang dikonsumsi dapat menjadi masa otot yang bisa memberikan buffer keperluan pangan terhadap konsumennya.

Namun yang menjadi fokus utama dalam riset ini adalah dibuatnya pangan darurat ini untuk diberikan kepada anak berusia 3 sampai dengan 6 tahun. Karena dirasa anak di umur 3 hingga 6 tahun ini sedang di dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan asupan gizi yang berbeda dengan anak-anak yang lain dan dirasa sudah bisa mencerna makanan yang dikonsumsi oleh orang dewasa. Sehingga yang menjadi fokus terbesar dalam riset ini adalah memberikan protein tinggi yang cukup signifikan dalam membantu metabolisme anak-anak.

Uniknya, produk pangan darurat ini sudah dikembangkan dengan beberapa varian produk. Berupa berbentuk biskuit dan pasta, varian produk berbentuk pasta ini adalah produk semi solid sehingga dapat memberikan sumber gizi yang lebih lengkap. Tetapi karena varian produk pasta ini memiliki kandungan air yang lebih banyak, sehingga menjadi tantangan bagi Dosen Robi bagaimana caranya agar produk ini terminimalisir dari produk cacat atau cacat sebelum waktunya dan dapat dikonsumsi dengan jarak waktu yang lama.

Namun masalah ini dapat diatasi dengan adanya teknologi Retort (mesin yang memiliki teknologi “Retort Pouch” yang memungkinkan disimpannya makanan hasil pemrosesan pada temperatur ruang).

Walaupun produk ini belum bisa diterima disemua kalangan yang mengakibatkan konsumen bosan dengan varian yang hanya sedikit. Dosen Robi sudah memiliki rencana untuk membuat dan mengembangkan lebih banyak lagi varian produk pangan darurat mulai dari varian rasa dan varian bentuk.

Karena memiliki konsep awal Green Production yang dimana semua produk pangan apapun bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai tambah, sehingga Dosen Robi mencoba memanfaatkan agar dalam produksi pangan ini tidak menghasilkan limbah. Maka dari itu Dosen Robi memilih whey protein sebagai bahan utama dari pembuatan pangan darurat ini.

Produk pangan darurat ini ternyata bukan produk komersial yang bisa ditemukan di pasar atau supermarket. Sehingga memiliki aturan yang berbeda dari pangan lainnya, dan nyatanya produk pangan darurat ini memiliki protein 4 -5 kali lebih tinggi dari pada biskuit biasa. Sehingga jika dikonsumsi oleh anak-anak dalam seharinya, sama dengan mereka mengkonsumsi 4-5 bungkus biskuit biasa.

Tidak hanya diperuntukan untuk korban bencana, saat ini Dosen Robi sedang membuktikan daya cerna yang diimplementasikan kepada anak stunting umur 3-6 tahun, kemudian diberikan asupan ini secara berkelanjutan selama 3 bulan berturut-turut sehingga dapat dilihat bagaimana status gizinya. Dan harapannya dapat menjaga atau tetap meningkatkan status gizinya. (dhs_mgng)

 

Share This

Share This

Share this post with your friends!