Hefa Filter yang menggunakan dua sistem sekaligus yaitu sistem Plasma dan UVC (Ultraviolet level C).

Penyebaran virus COVID-19 masih terus berlangsung hingga sampai saat ini. Tindakan Preventif seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak sudah menjadi langkah awal dalam menerapkan protokol kesehatan. Namun, penyebaran virus masih saja bisa terjadi. Maka dari itu Universitas Padjadjaran kembali membuat inovasi dalam dunia kesehatan dengan alat yang diberi nama “Air Disinfection 2 in 1”.
Produk Air Disinfection 2 in 1 ini dikembangkan oleh tim dosen dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran, yaitu : Dr. Andri Abdurrochman, MT., Dr. Bambang Mukti Wibawa, Drs., MS., dan Dr. Darmawan Hidayat, MT.
“Ini kan mulainya awal-awal pandemi itu terus ada masukan atau ada diskusi ya sama ada rekan yang dari kedokteran gigi ya mereka kan sulit praktek karena ada kasus aerosol yang keluar dari mulut pasien itu bisa membahayakan dokternya kan.” ujar Bambang.
Ketiga dosen ini mengembangkan kekurangan-kekurangan yang ada pada teknologi sebelumnya dengan tetap menggunakan prinsip dasar udara bertekanan tinggi mengalir ke tekanan rendah.
Andri menjelaskan bahwa produk ini menggabungkan 2 buah fungsi yaitu oral aerosol suction (alat penghisap partikel aerosol) dan air purifier (alat pembersih udara). Kedua fungsi ini tentu sangat bermanfaat bagi dunia kesehatan di masa pandemi sekarang ini.
Fungsi dari oral aerosol suction ini untuk menghisap partikel-partikel aerosol yang terpercikkan mulut pasien saat dokter gigi melakukan praktek. Sementara air purifier memiliki fungsi serupa namun lebih ditujukan untuk menghisap udara yang ada di dalam ruangan.
Dalam pengoperasiannya, Air Disinfection 2 in 1 buatan tim dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran ini menggunakan 3 tahapan proses desinfeksi.
Untuk Tahapan awal udara akan dihisap dan di filtrasi menggunakan hepa filter. Menariknya, hepa filter dari Air Disinfection 2 in 1 ini dapat menyaring virus sampai ke ukuran yang paling kecil serta dilengkapi juga dengan penghilang bau.
Setelah virus-virus tadi di filtrasi, virus akan maju ke 2 tahapan berikutnya yaitu deaktivasi menggunakan Plasma dilanjut dengan UVC (Ultraviolet level C).
Secara teknis, aerosol itu mengandung uap air. Cara kerja dari Plasma ini adalah membunuh virus-virus yang ada pada uap air tadi dengan menggunakan sengatan listrik. Lalu di tahap terakhir menggunakan UVC yang bisa mengeluarkan gelombang ultraviolet sekitar 200 nanometer.
Tak hanya untuk bidang kesehatan saja seperti membunuh virus, Air Disinfection 2 in 1 juga dapat dimanfaatkan dalam hal lain.
“Untuk di selain kesehatan, dia mempunyai fungsi air purifier berarti dia juga bisa membersihkan udara dimana juga bisa menyedot partikel-partikel yang ada di udara contohnya misalkan serbuk sari. Untuk beberapa orang serbuk sari itu bisa menyebakan alergi, selain serbuk sari ada debu juga. Jadi alat ini bisa menyedot partikulat-partikulat itu agar bebas dari ruangan” ujar Andri.
Selain itu, Air Disinfection 2 in 1 karya tim dosen FMIPA Unpad ini juga telah dilengkapi dengan sistem pengontrol digital yang kaya akan fitur didalamnya. Pengguna dapat mengatur durasi sesuai kebutuhan saat mengoperasikan alat ini. Fitur lain yang juga ditambahkan yaitu berupa komulator untuk mencatat durasi kerja dari alat ini sehingga memudahkan pengguna dalam menetapkan waktu yang tepat untuk melakukan maintenance seperti pembersihan atau pengecekan komponen-komponen didalamnya. (den_mhs Magang)

Share This

Share This

Share this post with your friends!